Kamis, 20 Maret 2008

Carut Marut Birokrasi 1

Mungkin sudah sangat sering diangkat di muka publik tentang carut marut birokrasi di Indonesia. Mulai dari masalah Pegawai Negeri Sipil yang katanya kerja atau tidak kerja tetap dibayar, yang katanya kalau mau jadi PNS harus pakai uang, harus pakai orang dalam, yang katanya PNS itu orang - orang pilihan karena yang melamar ikut tes CPNS banyak sekali dan yang keterima sedikit. Yang katanya kalau sudah pakai seragam keki coklat atau KORPRI berarti menjadi abdi masyarakat pelayan masyarakat, atau malah kebalikannya. Yang katanya lagi birokrasi di Indonesia kalau tidak ada uang maka tidak akan cepat selesai urusannya. Yang katanya untuk sekedar ngurus KTP saja harus banyak mengeluarkan uang, pikiran, tenaga dan waktu. Yang katanya kalau untuk perijinan harus melalui banyak pintu dan banyak amplop. Belum lagi masalah PNS yang sering bolos kerja, yang kalau kerja hanya nongkrong ngopi sambil baca koran, atau sekedar ngobras alias ngobrol santai sambil ngegosip selebritis atau teman - temannya. Atau lagi masalah jabatan - jabatan struktural atau fungsional yang untuk mendudukinya tidak dilakukan dengan fit and prover tes, yang katanya jabatan - jabatan itu hanya bisa diduduki oleh orang - orang dekat saja.

Belum lagi masalah gaji PNS yang belum juga naik tapi barang - barang kebutuhan sudah naik terlebih dahulu. Malah kenaikan gaji PNS yang selalu menjadi komoditi politik atau malah selalu menjadi gunjingan karena orang beranggapan buat apa gaji PNS dinaikkan kalau kerjanya gitu - gitu saja. Buat apa gaji PNS yang hanya menghabiskan anggaran negara yang nyata - nyata diperoleh dari pajak masyarakat.

Ahhhh itulah cermin birokrasi di Indonesia. Dan kita harus mengubahnya untuk lebih baik.

Saat ini pun penulis adalah seorang PNS yang berkerja di salah unit kerja di kabupaten di Jawa Timur.

Sadar untuk menjadi PNS adalah pilihan yang sudah diambil, dengan gaji yang jauh turun dari gaji seorang Programer, seorang asisten dosen, seorang interprenur muda di bidang IT. Yang biasa hidup berlebihan, bahkan hampir setiap malam nonton di 21.

Saat pilihan untuk menerima kelulusan tes PNS itu tiba, yang terpikir cuma satu bagaimana memajukan kota kelahiran tercinta. Bagaimana menjadi salah satu orang yang turut serta dalam membangun, memajukan, bahkan menjadikan kota tercinta ini menjadi sebuah kota digital dengan segala kemudahan yang ditujukan untuk masyarakat.

Ternyata untuk mewujutkan itu semua harus melalui jalan yang cukup panjang, penuh rintangan, tantangan bahkan mungkin darah.

Mungkin untuk saat ini, cukup ini dulu sebagai curahan hati seorang yang ingin mengubah birokrasi di Indonesia.

Selasa, 11 Maret 2008

Dokter Terlibat Kasus Narkoba



Baru - baru ini ada berita di Jawa Pos Radar Jember bahwa ada seorang dokter umum berinisial DR, 35 Tahun, ditahan polisi karena mempunyai ekstasi. Dokter ini mejalani pemeriksaan instensif atas dugaan keterlibatan dalam pengedaran narkoba di Jember.

Wah kotaku tercinta sudah mulai tercemar ulah orang - orang tidak bertanggung jawab, yang ingin merusak generasi muda. Semoga generasi muda saat ini bisa membentengi diri dari pengaruh narkoba.

Selidik punya selidik tentang perkembangan kasus dokter ini. Ternyata dokter ini adalah seorang CPNS yang belum diangkat PNS. Sebagai mana diatur di Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 Pasal 27 Ayat (1) Huruf (a) bahwa Ketentuan - ketentuan Peraturan Pemerintah ini berlaku juga bagi Calon Pegawai Negeri Sipil.

Yang mempunyai pengertian bahwa peraturan pemerintah tentang disiplin kepegawaian berlaku juga bagi CPNS.

Di Pasal yang sama Ayat (2) menyebutkan bahwa Calon Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman disiplin sedang atau berat, dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Nah ini ada lagi
Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1966 Tentang Pemberhentian/Pemberhentian Sementara Pegawai Negeri. Pasal 2 menyebutkan bahwa PNS yang didakwa telah melakukan kejahatan/pelanggaran dan dikenakan tahanan sementara maka dikenakan pemberhentian sementara.

Pasal 4 menyatakan bahwa kalau PNS itu mempunyai bukti kuat maka di gaji 50%, tapi jika belum ada petunjuk maka digaji 75%.


Memang yang namanya masih Calon ya harus berkelakuan baik. Kalau masih Calon saja sudah membuat ulah gemana lagi kalau sudah diangkat jadi PNS ??? !!!!

Wah kasihan pasien dokter ini, salah - salah dikasih resep narkoba.

Gimana kalau menurut para pengunjung pemecahan kasus ini ??

Kamis, 06 Maret 2008

My Balanced Brained



Rudi B., you are Balanced-brained

That means you are able to draw on the strengths of both the right and left hemispheres of your brain, depending upon a given situation.

When you need to explain a complicated process to someone, or plan a detailed vacation, the left hemisphere of your brain, which is responsible for your ability to solve problems logically, might kick in. But if you were critiquing an art opening or coming up with an original way to file papers, the right side of your brain, which is responsible for noticing subtle details in things, might take over.

While many people have clearly dominant left- or right-brained tendencies, you are able to draw on skills from both hemispheres of your brain. This rare combination makes you a very creative and flexible thinker.

The down side to being balanced-brained is that you may sometimes feel paralyzed by indecision when the two hemispheres of your brain are competing to solve a problem in their own unique ways.

Your Brain Type Report will describe how and why each of the responses you chose while answering the Brain Test revealed that you are Balanced-brained dominant. It's ready right now!

Find out more :
Find out what your brain dominance says about how you think and learn
Discover whether you are a visual or aural learner
Understand why you are drawn to certain activities and hobbies
Learn ways to train your brain to make smart decisions in every situation

From : http://web.tickle.com/

My new office




Kawah Ijen