Sabtu, 10 Mei 2008

BBM, Benar Benar Mahal

BBM, Benar Benar Mahal

Tidak lama lagi pemerintah akan menaikkan harga BBM sampai dengan 50%, dan berarti pula akan berakibat akan naiknya harga - harga barang dan jasa di pasaran.

Memang jika pemerintah menaikkan harga BBM, subsidi yang selama ini di kucurkan untuk BBM akan dialihkan untuk kebutuhan yang lain. Subsidi untuk BBM memang cukup besar, mencapai Rp. 300 Trilyun pertahun. Dan uang itu hanya untuk BBM tidak untuk yang lain. Selama ini masyarakat mungkin tidak sadar bahwa sebenarnya pemerintah sudah banyak mengeluarkan dana untuk kebutuhan masyarakat lewat BBM. Selama ini masyarakat menganggap pemerintah tidak berpihak pada masyarakat. Selama ini masyarakat beranggapan bahwa biaya kesehatan mahal, pendidikan mahal, semuanya mahal. Hal ini diakibatkan karena biaya untuk pendidikan, kesehatan, dan lain - lain dialihkan hanya untuk mensubsidi BBM.

Menghilangkan subsidi BBM berarti mengurangi pengeluaran pemerintah sebanyak Rp. 300 Trilyun pertahun. Dan pengeluaran pemerintah sebanyak ini, bisa digunakan untuk yang lain. Misalnya untuk pendidikan, kesehatan, investasi untuk lapangan pekerjaan. Dan itu berdampak pada murahnya pendidikan, murahnya kesehatan, dan ketersediaan lapangan pekerjaan.

Dari sini masyarakat harus bijak dalam melihat kenaikan BBM ini. Memang kenaikan BBM ini akan berakibat pada yang lain. Ini merupan dampak yang memang terjadi jika ada perubahan.

Disini pemerintah sebagai pemegang keputusan harus juga bijak dalam menentukan keputusan. Jika memang pemerintah mengurangi subsidi BBM, maka subsidi itu bisa di alihkan untuk pos - pos pengeluaran yang lain.

Memang pemerintah akan memberlakukan pemberian tunai langsung pada masyarakat yang rencananya akan dikucurkan dana Rp. 100.000 per kepala keluarga. Ini sebagai social side effect yang diambil oleh pemerintah. Sebernarnya pemerintah harus cerdas dalam memberikan bantuan pada masyarakat akibat naiknya BBM. Uang sebanyak Rp. 100.000 akan habis dalam sehari untuk membeli kebutuhan pokok. Tapi jika uang Rp. 100.000 ribu ini diwujudkan dalam terwujutnya lapangan pekerjaan dan ketrampilan masyarakat mungkin uang Rp 100.000 ini akan lebih bermakna banyak misalnya mengurangi pengangguran, mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat dan masyarakat akan berkembang tingkat perekonomiannya karena mereka mempunyai keterampilan dan mempunyai pekerjaan.

Selain itu pemerintah seharusnya juga cerdas dalam menaggulangi kelanggkaan BBM. Pemerintah seharusnya mendorong pembuatan bahan bakar arternatif seperti Biosel, Gas Alam, Angin, Matahari, Air dan lain - lain. Saat lalu pemerintah memang mengeluarkan INPRES tentang pemanfaatan biosel, tapi hanya isapan jempol atau istilahnya hangat - hangat tai kucing. Sebenarnya pengembangan biosel sangat membantu dalam pergantian BBM dari fosil ke BBM dari biosel. ( Mungkin pemerintah, DPR, MPR dll tidak pernah membaca majalah National Geograhic ). Selain itu pertamina sebagai perusahaan tunggal pengolah BBM harus selalu mengembangkan inofasi - inofasi dalam bahan bakar arternatif. Kembali lagi rasanya pemrintah dan pertamina berjalan sendiri sendiri, tidak ada titik temunya.

Selain itu pemerintah juga harus cerdas dalam menemukan sumber - sumber APBN misalnya sebagai contoh : Indonesia merupakan negara paling banyak perokoknya, bahkan sampai - sampai rokok menjadi kebutuhan pokok mengalahkan nasi, atau susu bagi masyarakat Indonesia. Bahkan ada komentar lebih baik merokok dari pada membelikan susu untuk anak. Dan Indonesia adalah salah satu produsen rokok terbesar juga di dunia, dan parahnya rokok di Indonesia adalah paling murah di dunia. Kita tahu bahwa rokok tidak ada baiknya untuk manusia, bahkan banyak menyebabkan penyakit ( yang sudah ditulis dalam bungkus rokok ). Dan kebanyakan perokok di Indonesia tidak sadar akan apa yang dilakukannya telah memberikan penyakit pada orang lain sebagai perokok pasif. Nah dari kenyataan ini pemerintah bisa menarik pajak sebanyak - banyaknya dari rokok. Saat ini rokok hanya dikenakan pajak 18% perbatang atau sebesar kurang lebih Rp. 50,-. Dengan kondisi Indonesia sebagai produsen rokok terbesar, negara yang penduduknya paling banyak perokoknya, dan harga rokok paling murah di dunia, maka untuk memperoleh Rp. 300 trilyun pertahun cukup mudah didapatkan dari rokok. Naikkan pajak rokok, buat rokok seharga BBM perbatangnya !!!!!!!!!!!!!.

Tapi masyarakat juga bijak dalam menghadapi kelanggakan dan kenaikan BBM, saat ini sudah tersedia ELPIJI yang di Indonesia gas ini tinggal colok saja di perut bumi Indonesia maka gas - gas ini sudah dapat dikomsumsi oleh masyarakat. Selain itu masyarakat harus sadar juga untuk tidak membuang - buang BBM untuk konvoi kampanye, jalan - jalan pakai mobil, berjalan atau naik sepeda lebih sehat dan bebas polusi, selain itu nyalakan AC secukupnya, gunakan lampu - lampu hemat energi, padamkan lampu kalau tidak perlu. Matikan alat elektronik kalau tidak digunakan. Dan yang paling penting tetap kreatif dalam menciptakan sumber energi baru dan dapat diperbarui.

Semoga Indonesia cepat lepas dari krisis sekarang ini. Amin

(c) 2008 by Rudi B. Prakoso

Jumat, 02 Mei 2008

Desain Unik Tak Lekang Oleh Jaman

Tetap di kota tercinta Jember.
Pada artiket Seni Arsitektur Islam Modern, penulis mengetengahkan Masjid Baitur Roja' sebagai salah satu arsitektur modern yang terpengaruh pada bentuk fasat dari balok-balok persegi panjang dan perpaduan antara bahan- bahan material alami, yang memperindah tampilan dari masjid Baitur Roja'.


Masjid Jami' Jember ini dibangun pada tahun 1973 dan selesai diresmikan pada tahun 1976. Sepintas bangunan ini menyerupai desain gedung MPR/DPR di Senayan Jakarta. Tapi Masjid Jami' ini lebih terkenal dengan sebutan masjid jamur. Nama masjid jamur ini sampai terkenal di seluruh Jawa Timur bahkan Asia. Masjid Jami' ini dibangun tepat di pusat kota Jember sebelah barat alun - alun kota, di sebelah utara masjid Jami' lama yang dibangun dengan gaya tempo dulu yang penuh dengan garis tegas yang dipengaruhi desain bangunan - bangunan jaman Belanda.

Masjid Jami' yang baru ini sangat kontras dengan Masjid Jami' lama yang berdetail garis tegas, sedang Masjid Jami' baru berbentuk lengkungan setengah lingkaran. Masjid Jami' ini tidak mempunyai kubah yang terpisah di puncak bangunan seperti pada umumnya masjid - masjid di Indonesia, tapi bangunan masjid ini keseluruhannya adalah kubah, dari bawah sampai dengan atas.

Masjid ini mempunyai 5 kubah utama dan 2 kubah kecil sebagai tempat wudlu. Dari 5 kubah utama ini terdapat 1 kubah yang paling luas, dan mempunyai 2 lantai. Untuk desain eksterior sangat sederhana, hanya kubah besar setengah lingkaran yang tertelungkup yang dicat warna hijau dengan detail pelipit warna kuning. Untuk kubah 2 lantai terdapat beton penguat sebanyak 8 garis yang semuanya bertemu di tengah - tengah kubah yang di cat kuning dengan sedikit hiasan untuk sirkulasi udara.
Kesederhanaan ini lah yang membuat bentuk fasat dari kubah - kubah tersebut menjadi unik, seperti 8 jamur yang sedang merekah. Untuk interior masjid bagian atas dari langit - langit dilapisi oleh karpet hijau kontras dengan warna kuning dari beton penguat. Untuk lantai dua dari kubah utama di buat garis - garis tegas warna kayu, yang membuat kesan sejuk menyeimbangi kesan panas dari beton-beton kubah dan beton penguat.
(c) 2008 by Rudi B. Prakoso
















Kawah Ijen