Jumat, 09 Juli 2010

My Name is Khan

My Name is Khan -- film produksi Fox star dan Dharma Production adalah film dengan bahasa India yang memang dibintangi oleh bintang - bintang India yaitu Shah Rukh Khan dan Kajol. Film produksi Bollywood yang dipasarkan secara internasional oleh Fox ini mengambil cerita di Amerika dan sebagian kecil India.

Cerita film yang mengangkat orang dengan asperger syndrome atau gejala autisme yaitu salah satu gejala autisme dimana penderitanya mengalami kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya. Penderita asperger syndrome ini tidak mengalami penurunan kemampuan kognitif atau linguistik bahkan mempunyai IQ yang tinggi. Di film ini Rizvan Khan yang diperankan oleh Shah Rukh Khan mempunyai daya ingat yang luar biasa, dan hampir bisa membetulkan semua barang yang rusak.

Rizvan Khan adalah seorang muslim dari India kemudian pindah ke San Francisco karena ibunya meninggal dunia. di San Francisco tinggal dengan adiknya.

" Only good people and bad people in the world"


Salah satu pesan yang diingat oleh Rizvan Khan dari Ibunya sebelum meninggal.

Rizvan Khan menikah dengan Mandira yang diperankan oleh Kajol seorang janda dengan satu anak yang beragama hindu. Awal kehidupan rumah tangga mereka bahagia walaupun Rizvan Khan mempunyai kekurangan asperger syndrome.

Peristiwa 9/11, September 2001, World Trace Centre ditabrak oleh pesawat. Telah mengubah cara pandang dunia tentang Islam, terutama Amerika yang mengecap jihat Islam sama dengan teroris.

Disinilah menariknya film ini, yaitu bagamana seorang muslim berusaha untuk memperbaiki citra Islam yang telah terlajur dituduh sebagai teroris.

" My name is Khan, And I'am not teroris "

Kata yang selalu diucapkan Rizvan Khan, karena orang sekitarnya telah melihat bahwa seorang muslim adalah teroris.

Film yang mengkritik sikap Amerika bahkan mungkin dunia barat tentang cara pendang mereka tentang Islam yang berarti teroris.


Five Star for My Name Is Khan.

Selasa, 06 Juli 2010

Mahalnya Sebuah Demokrasi

Demokrasi adalah sebuah cara untuk memilih pemimpin secara langsung oleh rakyat. Disini saya tidak melihat masalah demokrasinya, tapi proses demokrasi yang ternyata menghabiskan uang sangat banyak, sampai ratusan milyar rupiah atau bahkan trilyunan rupiah hanya untuk memilih satu pemimpin.

Mulai dari pengadaan kartu suara, pembangunan TPS, alat tulis kantor, proses pendaftaran calon, kampanye, sosialisasi,pemungutan suara, penghitungan suara, penetapan pemenang, sampai dengan pelantikan pimpinan terpilih, bahkan yang paling penting adalah honor - honor panitia pemilu.

Kadang saya berpikir kenapa pelaksanaan pemilu tidak dijadikan satu di seluruh Indonesia, mulai dari pemilihan wakil wakyat dari DPR, MPR, sampai DPRD, Presiden, Gubernur, Bupati, atau bahkan sampai Kepala Desa.

Dengan dijadikan satu, maka ada penghematan biaya yang dikeluarkan oleh negara yang sudah barang tentu uang rakyat.

Atau dengan dipilihnya wakil rakyat yang duduk di MPR, DPR, sampai DPRD Propinsi dan Kabupaten, maka mereka berhak memilih pemimpin, baik itu presiden, gubernur, sampai bupati. Dengan adanya proses seperti ini maka akan menghemat anggaran dan kerja para wakil rakyat tersebut akan lebih terlihat.

Dengan adanya pelaksanaan pemilu yang dijadikan satu atau dengan menggunakan hak wakil rakyat untuk memilih pemimpin maka selain menghemat anggaran akan mengurangi perselisihan antar masyarakat pendukung calon - calon bupati tersebut.

Doa untuk demokrasi yang murah, akuntabilitas, transparan dan aman.

Kawah Ijen