Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2008

Soerabaya Doeloe dan Sekarang





Surabaya sebuah kota metropolitan dengan sejuta persoalan khas metropolitan. Pertumbuhan Mall, Plaza, Pusat - pusat perbelanjaan moderen yang mengikis pasar - pasar tradisional. Pusat - pusat hiburan yang mendidik sampai tidak mendidik tumbuh di kota ini.



Sejengkal tanah di Surabaya sangat berharga dan akan dibangun pusat - pusat perbelanjaan dengan tanpa melihat dampak lingkungan dan dampak sosialnya.





Surabaya kota tua yang menyimpan sejuta pesona bangunan tua ini mulai kehilangan peninggalan bangunan - bangunan jaman penjajahan. Sekelumit cerita perjuangan di Jembatan merah, Perjuangan menegakkan merah putih 10 November 1945 di Hotel Yamato dan peristiwa - peristiwa heroik lainnya.



Bangunan - bangunan sejarah ini kini menunggu nasib untuk dipugar atau dirubuhkan.

Tinggal bijakkah kita dalam menjaga kisah sejarah bangsa ini untuk anak cucu kita.





Jumat, 02 Mei 2008

Desain Unik Tak Lekang Oleh Jaman

Tetap di kota tercinta Jember.
Pada artiket Seni Arsitektur Islam Modern, penulis mengetengahkan Masjid Baitur Roja' sebagai salah satu arsitektur modern yang terpengaruh pada bentuk fasat dari balok-balok persegi panjang dan perpaduan antara bahan- bahan material alami, yang memperindah tampilan dari masjid Baitur Roja'.


Masjid Jami' Jember ini dibangun pada tahun 1973 dan selesai diresmikan pada tahun 1976. Sepintas bangunan ini menyerupai desain gedung MPR/DPR di Senayan Jakarta. Tapi Masjid Jami' ini lebih terkenal dengan sebutan masjid jamur. Nama masjid jamur ini sampai terkenal di seluruh Jawa Timur bahkan Asia. Masjid Jami' ini dibangun tepat di pusat kota Jember sebelah barat alun - alun kota, di sebelah utara masjid Jami' lama yang dibangun dengan gaya tempo dulu yang penuh dengan garis tegas yang dipengaruhi desain bangunan - bangunan jaman Belanda.

Masjid Jami' yang baru ini sangat kontras dengan Masjid Jami' lama yang berdetail garis tegas, sedang Masjid Jami' baru berbentuk lengkungan setengah lingkaran. Masjid Jami' ini tidak mempunyai kubah yang terpisah di puncak bangunan seperti pada umumnya masjid - masjid di Indonesia, tapi bangunan masjid ini keseluruhannya adalah kubah, dari bawah sampai dengan atas.

Masjid ini mempunyai 5 kubah utama dan 2 kubah kecil sebagai tempat wudlu. Dari 5 kubah utama ini terdapat 1 kubah yang paling luas, dan mempunyai 2 lantai. Untuk desain eksterior sangat sederhana, hanya kubah besar setengah lingkaran yang tertelungkup yang dicat warna hijau dengan detail pelipit warna kuning. Untuk kubah 2 lantai terdapat beton penguat sebanyak 8 garis yang semuanya bertemu di tengah - tengah kubah yang di cat kuning dengan sedikit hiasan untuk sirkulasi udara.
Kesederhanaan ini lah yang membuat bentuk fasat dari kubah - kubah tersebut menjadi unik, seperti 8 jamur yang sedang merekah. Untuk interior masjid bagian atas dari langit - langit dilapisi oleh karpet hijau kontras dengan warna kuning dari beton penguat. Untuk lantai dua dari kubah utama di buat garis - garis tegas warna kayu, yang membuat kesan sejuk menyeimbangi kesan panas dari beton-beton kubah dan beton penguat.
(c) 2008 by Rudi B. Prakoso
















Sabtu, 26 April 2008

Seni Arsitektur Islam Modern

Tetap di kotaku tercinta Jember.

Perkembangan jaman membuat perubahan – perubahan dalam karya seni. Baik seni lukis, gerak, teater dan seni bangun. Bahkan perubahan juga terjadi pada budaya masyarakat. Saat ini masyarakat cenderung mengarah ke arah praktis, mudah dan nyaman. Perubahan ini tidak serta merta di ambil oleh masyarakat, tetap melakukan penilaian – penilaian positif dan negatifnya. Inilah yang sangat sulit dilakukan, banyak sekali pengaruh perubahan jaman yang bersifat negatif, tapi banyak juga yang positif. Tinggal bagaimana masyarakat membentengi diri dari perubahan yang bersifat negatif tersebut dan tetap menjaga budaya asli yang sudah ada.

Jember merupakan kota dengan multiculture atau percampuran dari berbagai budaya, dari Madura, Jawa, Sumatra, Bali dan dari berbagai tempat di Nusantara Indonesia. Percampuran ini yang menjadikan Jember mempunyai budaya tersendiri. Budaya di Jember mungkin berbeda dengan Lumajang, Banyuwangi, bahkan Bondowoso. Kota – kota disekitar Jember banyak mempunyai budaya yang turun temurun dari nenek moyang dulu, karena kota – kota tersebut merupakan bekas kerajaan - kerajaan kecil yang sudah ada sejak jaman dahulu kala dan mempunyai ciri khas budaya masing – masing.

Percampuran dan perkembangan budaya tersebut membawa dampak pada kehidupan masyarakat di Jember. Jember yang berkembang menjadi sebuah kota metropolis dan mandiri ini harus bisa menata kota agar nyaman, aman, bersih, teratur dan sudah pasti hijau. Perencanaan kota ini merupakan pekerjaan rumah dari birokrasi dan masyarakat Jember. Jangan sampai karena alasan ekonomi dan pembangunan, perencaan kota terabaikan. Jika perencaan kota tidak matang maka akan sangat merugikan masyarakat dan berokrasi harus bertanggung jawab atas perencanaan tersebut.

Banyak contoh kota – kota yang tidak mempunyai tata ruang yang bagus, pembangunan kota tersebut tidak terkendali bahkan situs – situs budaya berupa bangunan – bangunan diratakan dengan tanah untuk dibangun pusat – pusat perbelanjaan atau gedung – gedung tinggi. Mungkin saat ini tidak terasa akan kerugian dari pengerusakan tersebut. Tapi pada masa yang akan datang, anak cucu kita akan bertanya dimana pertama kali pusat pemerintahan di kota kita, dan kita akan menjawab ” Oo itu sekarang sudah jadi Mall ”. Hilanglah sejarah, hilanglah nasionalisme anak cucu kita, karena hanya tinggal cerita.

Percampuran budaya di kota Jember juga mempengaruhi seni arsitektur, banyak bangunan yang mengarah ke seni modern, sebagai contoh Masjid Jami’ Al Baitul Amien, yang dibangun pada tahun 70’an mengusung seni modern yang kontras dengan masjid Jami’ lama di sebelah kirinya yang tetap mengusung arsitek jaman Belanda moderen dengan detail garis tegas. Gaya design Masjid Jami’ baru mendobrak seni arsitektur islam indonesia yang cenderung bermain di relif dan bentuk kubah cungkup atau bulat. Bentuk bangunan yang keleruhannya adalah kubah ini lah yang membuat menarik, unik dan menimbulkan gaya tersendiri.

Selain itu design Masjid Baitur Roja’ mengusung design tersendiri. Percampuran design modern dan klasik nampak pada masjid ini. Garis – garis tegas sangat kental menghiasi keseluruhan masjid ini. Tampak pemakaian material batu alam yang merupakan kekayaan alam Jember, menjadi detail yang membuat kontras warna yang harmonis. Bukaan – bukaan yang lebar dari lantai dua dan jendela – jendela persegi panjang membuat sikulasi udara yang ngaman, walaupun pada siang yang panas.

Permainan kayu yang kontras dengan beton – beton penyangga kubah membuat detail interior yang harmonis dengan warna tanah yang membuat sejuk dan nyaman. Pemilihan warna yang harmonis juga sangat berpengaruh pada design masjid ini. Warna coklat tanah muda dipadu dengan putih dan warna batu alam dan kayu membuat kontras yang indah. Bahkan tata sinar lampu dan kop lampu disesuaikan dengan warna dan design interior masjid yang menambah kekuatan tampilan warna yang tampil.

Jaga budaya asli, ambil yang positif budaya yang baru.

(c) 2008 by Rudi B. Prakoso
















Minggu, 20 Januari 2008

Bioskop Tua

Sekarang di kotaku Jember baru ada hiburan baru Bioskop semi 21 yang baru buka dapat sebulan. Yah lumayan lah sebanding dengan harga tiket yang harus dibayar. Memang bioskopnya tidak semewah di 21 Cineplex yang ada di Mall-mall tapi yang bikin aku salut adalah bioskop ini tetap mepertahankan BANGUNAN TUA yang menurutku gedung itu sangat indah, desain minimalis gaya tahun 70an ( aku enggak tau istilahnya ) plus area balkon yang mengingatkanku waktu kecil sekitar tahun 80an ketika aku diajak nonton bareng-bareng dengan keluarga ( memang kami adalah keluarga pecinta film kususnya film layar lebar ) dan nonton film layar lebar menjadi hobbyku yang tidak bisa aku tinggalkan, walaupun kini aku harus meninggalkan nikmatnya nonton di 21 cineplex dengan digital sound untuk kembali membangun kota ku tercinta JEMBER.

Kembali ke bioskop tua. Pertama kali aku nonton di gedung bioskop kotaku ini adalah sama yayangku, waktu itu masih dalam keadaan yang sangat jauh dari sekarang. Dengan tempat duduk dari kayu, kualitas film yang parah abis, suara yang lebih bagus Home Teater di rumahku plus udara panas. Tapi aku cukup kagum pada desain gedung bioskop tua ini. Sejak pertama aku jatuh cinta dengan gedung bioskop tua ini, sayang waktu itu keadaannya sangat tidak terawat, dengan cat yang mengelupas, langit-langit yang sudah hapir jatuh, dan dengan segala aroma yang bikin pusing. Suasana sangat mendukung kalau diputar film-film horor.

Saat itu aku berangan-angan, Andaikan aku punya uang, andaikan aku kaya, aku akan beli gedung ini akan ku bangun sebuah 21 cineplex dengan tetap mempertahankan desain gedung itu, yah mungkin yang harus diganti ya tempat duduk, tata suara dan gambar. Plus harus ngecat disana sini.

Yah mungkin belum saatnya infestasi yang muluk-muluk. Tapi dalam waktu 3 tahun pengelola gedung itu mungkin membaca pikiranku. Dengan usahanya dia merubah gedung bioskop tua menjadi lebih modern kualitas 21 dengan tetap mempertahankan arsitektur gedungnya. Aku sangat salut andaikan banyak orang yang ingin tetap menjaga aset budaya gedung-gedung tua yang banyak menyimpan sejarah, yang mau memelihara, menjaga, merehap dengan tetap mempertahankan desainnya. Mungkin kita tidak akan kehilangan jati diri bangsa ini.

Salut untuk pemilik Kusuma 21Cineplex Jember. Semoga lebih banyak orang yang peduli pada gedung-gedung tua di Indonesia.

Kembali Ku Menulis - Bagian 1 - Rembangan Royal Resort and Spa

Sudah lama aku tidak menulis sesuatu ataupun memposting foto indahnya alam ini. Saat ini ketika tersedia waktu untuk sekedar menulis cerita...