Kamis, 09 Oktober 2008

Senin, 06 Oktober 2008

Peselancar Jember Mendominasi

Akhir Pertarungan Peselancar Luar Negeri

PUGER - Aksi peselancar Jember benar-benar mengejutkan. Dalam laga pamungkas bertajuk Puger International Surf Exhibition di Pantai Pancer Puger siang kemarin, putra Jember bertengger di dua kelas bergengsi. Masing-masing menjadi jawara di kelas Dibawah 14 dan dibawah 18 tahun. Sedangkan di kelas Open, Jember harus puas di nomer dua.

Raihan positif surfer asal Jember ini kemarin berakhir secara mengesankan. Dibawah kelas 14 tahun, Babun, Zaenal, dan Arya meraih juara I, II, dan III. Sedangkan di posisi keempat diraih Angus (surfer asal Australia). Demikian juga kelas dibawah 18 tahun juga diraih oleh surfer Jember. Masing-masing, Zaenal (Balung Jember), Kokok ( Bali), Arya (Jember) dan Angus (Australia).

Sedangkan di kelas Open, peselancar Jember harus mengakui keunggulan Dedy, asal Bali. Di posisi kedua ditempati Kokok (Bali). Sedangkan di posisi ketiga diraih Babun (Jember) dan posisi terakhir diraih Prayit (Bali).

Aksi kemarin cukup menegangkan. Sebab, para surfer harus benar-benar menaklukkan kerasnya ombak Pantai Pancer Puger. Bahkan, acara yang mestinya dijadwalkan jam 07.00 pagi kemarin terpaksa harus molor karena kerasnya ombak Pantai Selatan. "Memang kondisi ombaknya tidak memungkinkan, sehingga terpaksa kamu mundurkan jadwalnya," ujar Didik Prasetya, koordinator kegiatan.

Sejumlah peselencar mengungkapkan, Pantai Selatan Puger ini sangat bagus, meskipun ombak terlalu keras. Mereka menilai, kejuaraan surfing ini akan memberikan peluang besar menjadikan Jembersebagai kota yang representatif untuk surfing. Bahkan, Bupati MZA Djalal yang kemarin melihat dari dekat sudah juga sangat apresiatif terhadap kejuaraan tersebut. "Kami nanti akan menjadikan surfing ini sebagai agenda tahunan Bulan Berkunjung Jember (BBJ)," katanya.

Menurt Didik, pilihan menggunakan pantai Puger tersebut sudah melalui tahap pengamatan. Di Jember ada beberapa pantai yang pernh dilihat. Mulai dari Bande Alit, Rowocangak, Watu Ulo, Papuma, Puger sampai Paseban.

Untuk di Bande Alit, ternyata ombaknya juga kurang besar. Meski pantainya bagus, namun gelombang yang ada di daerah itu kurang representatif. Demikian juga dengan di pantai Rowocangak. Sedangkan di Watu Ulo, Papuma dan Paseban, tiga pantai ini memiliki tipikal ombak yang sama. "Ombak di pantai ini memang besar, namun setelah itu langsung hilang. Ini kurang bagus untuk berselancar," katanya.

Dikatakan, yang paling bagus dan representative adalah Pantai Puger. Sebab ombaknya sangat bagus. Selain besar, ombak di pantai ini juga bisa bergelombang dan menuju ke tepi. Hal ini akan memberikan keleluasaan para pecinta Surfing ini untuk bisa terus berselancar di atas papan mulai dari tengah hingga ke tepi. "Tidak sembarang ombak bisa digunakan untuk Surfing. Ombak besar harus diikuti dengan gelombang," kata Didik

Selain itu, di daerah ini juga ada muara. Keberadaan break water (pemecah ombak, Red) juga memberikan pengaruh luar biasa. Yakni, ombak yang besar itu bisa dipecah dan menimbulkan gelombang susulan. "Ini yang disukai para pecinta surfing," tuturnya.

Alasan lainnya, kata dia, bagi seorang pecinta Surfing selalu ingin mendapatkan tantangan baru. Selama ini, mereka mengenal hanya di Bali dan Hawai. "Mereka sudah mulai jenuh di Bali. Dan ingin mencari tempat yang baru," ungkapnya.

Pembukaan pantai ini, sebetulnya sudah dilakukan di banyak tempat. Mulai dipantai semenanjung sumtera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. "Dan sekarang yang sudah banyak diminati oleh para bule, seperti pantai di Pacitan. Kita berharap Puger juga akan menjadi tempat singgah bagi para bule dan menjadi obyek wisata tersendiri," kata Didik.

Berita Jawa Pos, Senin 6 Oktober 2008.

Kawah Ijen