Jumat, 24 April 2009

Hedonisme

Hedonisme...

A word that may rarely heard by our ears, but we have inadvertently become adherents of hedonism society.

Sebuah kata yang mungkin jarang di dengar oleh telinga kita, tapi tanpa sengaja kita telah menjadi masyarakat penganut hedonisme.

According id.wikipedia.org hedonism is the view of life which assumes that the material pleasures of life is the main goal. People's views on things - things that are partying, shopping, fun - happy is the main goal in life and they do not care about other people.

Hedonisme menurut id.wikipedia.org adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Pandangan orang terhadap hal - hal yang bersifat pesta pora, belanja, bersenang - senang adalah tujuan utama dalam hidup dan mereka tidak memperdulikan orang lain.

Hedonism phenomenon can not be separated from the emergence of many centers - shopping centers in the city - a big city, even behind the city - a small town race - the race to the center - shopping and entertainment.

Fenomena hedonisme tidak lepas dari banyak munculnya pusat - pusat perbelanjaan di kota - kota besar, bahkan tak ketinggalan kota - kota kecil berlomba - lomba membuat pusat - pusat perbelanjaan dan hiburan.

A large shopping and entertainment center has changed the face of a city of culture and even people. Once a possible day-to-day activities carried out only in the workplace and at home right now people just choose the Mall which will spend the holidays.

Banyaknya pusat perbelanjaan dan hiburan ini telah mengubah wajah sebuah kota bahkan budaya masyarakatnya. Dulu yang mungkin aktifitas sehari-hari hanya dilakukan di tempat kerja dan di rumah sekarang masyarakat tinggal memilih di Mall mana akan menghabiskan waktu liburan.

Here occurred the gulf between the haves and the people who have-nots. Community-nots race - the race to spend money on the Mall - the mall, but the have-nots trying to adjust to doing things in order to follow the culture of hedonism.

Disini terjadi jurang pemisah antara masyarakat yang berpunya dan masyarakat yang tidak berpunya. Masyarakat berpunya berlomba - lomba menghabiskan uang di Mall - mall tapi masyarakat tidak berpunya berupaya menyesuaikan diri dengan melakukan segala hal untuk bisa mengikuti budaya hedonisme.

Live hack how we deal with the cultural wave that could sweep can even drown us with Religion and maintaining such a culture in eastern Indonesia.

Tinggal bagaimana kita menghadapi terjangan gelombang budaya yang bisa menghanyutkan bahkan bisa menenggelamkan kita dengan Agama dan tetap mempertahankan budaya timur seperti di Indonesia.

Credit post:
(c) 2009 All picture by Rudi B. Prakoso
Teks by Rudi B. Prakoso and id.wikipedia.org
Location : Tunjungan Plaza - Surabaya
Event : Foto hunting for "Hedonisme"
Photografer : Rudi B. Prakoso

8 komentar:

supris mengatakan...

weleh,,,,,di surabaya ya...kirain di paris kang..asli..tertipu aku..wakakak

Rudi B. Prakoso mengatakan...

Terima kasih kang supris..

Memang sebuah foto bisa berbicara menurut bahasanya sendiri.

Alias membuat berbagai macam interprestasi masing-masing individu.

egah mengatakan...

moto2 di mall gini gak dimarahin satpam cak hehhehehe..

Rudi B. Prakoso mengatakan...

To egah :

Untung ae tidak ketemu sama satpamnya, mungkin kalau ketemu satpamnya tidak boleh foto2an...hiiii.

ghosty1st mengatakan...

ya kang. bener banget. lama kelamaan budaya kita bisa bergeser. tidak ada lagi nilai-2 ketuhanan, karena Tuhan sudah berubah menjadi barang. arghhh. hedon. kenapa harus ada hedon?

bangrudy mengatakan...

yach..happy2 adalah hak individu tapi moga2 happy2nye gak nyinggung individu lainx..bisa gak? he3

negeri hijau mengatakan...

kwkwkwkw

lucu...

btw, tukaran link bisa?
dah saya add url blog ini di blog saya

Nurain mengatakan...

Saya sebenarnya mencari2 maknanya hedonisme di google dan terjumpa blog anda... menarik...

Kawah Ijen